Rabu, 09 Januari 2013

PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME (tulisan)


PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME
Setiap orang pasti pernah berprasangka, baik itu prasangka positif maupun prasangka negatif namun pasti lebih banyak berprasangka buruk yang dalam bahasa arab berarti suudzon.Prasangka bisa datang kapan saja dan kerap kali datang diiringi dengan penyakit hati yang lain seperti hasad, dengki, dzalim dan kesombongan. Mereka yang senantiasa terangsang hati dan pikirannya untuk berburuk sangka terhadap apa yang dilihat dan dirasakan hanya akan menyebabkan ketidaktenangan dan keresahan jiwa.
Selain itu ketika perasaan buruk sangka itu muncul maka akan menimbulkan suatu efek pada diri kita yaitu kita akan disibukkan untuk menilai perilaku ataupun perbuatan orang lain yang kita nilai buruk, padahal belum tentu buruk menurut pandangan Allah. Sehingga kita terbuai dan lupa bahwa diri kita sudah terjerat oleh bujuk rayu dan hasutan syetan.
Hidup bermasyarakat adalah hidup dengan berhubungan baik antara dihubungkan dengan menghubungkan antara individu-individu maupun antara kelompok dan golongan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan dinamis dimana setiap anggota satu dan lainnya harus saling memberi dan menerima. Dalam kehidupan ini manusia disebut makhluk social diman saling membutuhkan untuk tercapainya kelancaran dan keselarasan dalam hidup.Jika kita memaknai hidup bermasyarakat dengan baik maka tidak akan terjadi gesekan-gesekan social, konfilk yang menjurus SARA. Awal mulanya gesekan ini adalah tidak ada yang bisa memaknai hidup bermasyarakat yang baik, padahal dengan pemahaman ini bisa menolak gesekan tersebut. Mulai sejak dini atau usia muda (sekolah) harus diberikan pemahaman-pemahaman tentang hidup bermasyarakat, jika tidak dimulai sejak dini nantinya akan terjadi gesekan lebih besar lagi dimasa yang akan datang. Maka dengan pemahaman ini kita bisa menerima berbagai macam bentuk perbedaan, biasanya perbedaan ini terjadi antara kelompok etnis, kelompok agama, dan ideologi.
Prasangka adalah sebuah fenomena yang hanya bisa di emui didalam kehidupan sosial dan masyarakat. Semua orang pasti mempunyai prasangka baik itu prasangka buruk maupun prasangka yang baik. Karna prasangka timbul atas diri sendiri. Prasangka bisa terjadi karna adanya kontak atau hubungan sosial dari berbagai individu di dalam masyarakat. Maka bisa dikatakan seseorang tidak bisa berprasangka apabila tidak mengalami kontak sosial dengan orang lain. Untuk bisa berprasangka setiap individu harus hidup bermasyarakat terlebih dahulu. Sudah pasti kita adalah anggota masyarakat dan bisa dikatakan kalau kita memiliki prasangka. Hidup bermasyarakat adalah hidup berhubungan baik dengan individu lain maupu antara suatu kelompok atau golongan. Dalam hidup bermasyarakat kita harus bisa saling membantu dan menerima apa adanya kondisi yang erjadi dilingkungan kita. Karna kita hidup bermasyarakat itu saling membutuhkan untuk tercapainya keselarasan dalam hidup ini.
Maka dari itu prasangka bisa dikatakan sebagai hal yang tidak baik di dalam kehidupan masyarakat. Prasangka bisa berubah menjadi sebuah fitnah. Maka dari iitu jika hal ini terus dibiarkan maka akan menimbulkan korban. Dari prasangka tersebut hal ini bisa berdampak ke dalam kehidupan masyarakat. Karna prasangka dapat menyebabkan mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia dalam berbagai situasi yang ia hadapi. Maka dari itu prasangka bisa membuat seseorang tidak mau bergabung dan bergaul dengan kelompok atau masyarakat lainnya. Dan juga membuat seseorang tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan msyarakatnya. Ada cara untuk menanggulangi dari sirat prasangka yang pertama adalah harus  Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang individu lain, yaitu belajar mengenal dan memahami individu lain berdasarkan karakteristiknya yang unik, tidak hanya berdasarkan keanggotaan individu tersebut dalam kelompok tertentu.
Sebagai salah satu contoh perlakuan diskriminatif terhadap penyandang cacat. Kita masih sering membaca dalam pengumuman penerimaan calon pegawai atau karyawan salah satu poin yang mensyaratkan bahwa pelamar harus sehat jasmani dan rohani. Biasanya persyaratan tersebut tertulis tanpa penjelasan, sehingga maknanya pun sangat umum. Arti sehat jasmani dapat dimaknai bahwa selain seseorang tidak memiliki kekurangan fisik, dia juga terbebas dari segala penyakit seperti penyakit ginjal, kanker, atau penyakit lainnya. Sedangkan sehat rohani dapat juga diartikan bukan hanya sehat secara mental (psikis) namun juga sehat secara moral. Namun kebanyakan kedua istilah sehat jasmani maupun rohani lebih merujuk pada kondisi penyandang cacat.
Etnosentrisme yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan diepergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain. Sikap ini sangat lah tidak baik bagi kita semua, justru nilai-nilai yang terkandung didalam suatu kebudayaan bukanlah untuk dibedakan melainkan untuk saling menghargai kebudayaan sendiri maupun orang lain. Jangan karena kebudayaan milik sendiri lebih baik dari yang lain bisa seenaknya saja menjelekkan kebudayaan lain, ini kan menimbulkan permasalahan pada diskriminasi. Seperti yang dijelaskan diatas diskriminasi akan banyak menimbulkan korban dari adanya gejolak dan gesekan masyarakat tentang kebudayaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar